Sering kali kita dihadapkan pada pertanyaan2 aneh yang muncul di waktu yang salah. Misalnya: di saat makan, atau sholat, atau kerja, sholat, cebok, ngelepas kaos kaki, sholat, dst-dst.
Sebagian besar jelajahan pikiran kita itu timing-nya tepat di waktu senggangnya otak kita berpikir.
Jelas itu sangat mengganggu. Mengganggu, karena pertanyaan2 itu sama sekali gak bisa diingat sampai 'waktu untuk bertanya' itu tiba.
Tapi, ada satu yang masih bisa di ingat. Satu hal yang masih gua raba-raba ampe sekarang. Satu hal nyang jika dan hanya jika kita tanyakan keapda para sikolog atow sikiater--namun jangan sekali-kali nyanya sama dukun/orang pinter--kan ngabisin isi celengan kita setaun penuh. Satu hal itu: masa depan!
Masa depan. Hal remeh yang bahkan membuat ahli sarjana pun pusing dibuatnya.
Dua cara menyikapi cita-cita:
Bagi sebagian orang, cita-cita adalah sesuatu yang sangat vital. Primer untuk terpenuhi. Bagi golongan ini, cita-cita bagai ruh yang menelusup di kehidupan. Menurutnya, tanpa cita-cita manusia adalah seonggok daging yang hanya bisa berjalan tak tentu arah. Lebih baik mati daripada tak punya tujuan hidup. Tak punya cita-cita.
Sebaliknya, sebagian orang lagi yang sisanya, mereka itu tak mau ambil puyeng memilirkan semua itu. Gak ada bagi mereka sesuatu yang dapat dijadikan manfaat secara langsung sebab merancang dan mengusahakan untuk meraih cita-cita itu sendiri. Baginya, sesuatu yang didapat secara instan dan cepat tanpa susah payah bekerja keras adalah keniscayaan. Tiada yang lain. Oleh karena itu, hasil yang didapatnya pun hanya sekejap saja. Tak berlangsung lama.
Keduanya pilihan. Pilihan yang semua orang memilikinya. Punya hak atas itu. Mungkin untuk segelintir mereka yang tak punya sesuatu materi buat meneruskan pendidikan yang lebih tinggi akan berkilah dengan enteng, "ah, kita mah urang ga punya. Mana mungkin bisa menyekolahin sampe insinyur gitu... mending kerja aja atuh..." atau komentar-komentar lain yang menyiratkan keputusasaan.
Dan itu juga hak. Mereka berhak memperjuangkan apa yang diyakininya. Gak bisa kita seenaknya memaksakan hal prinsipil ini kepada mereka. Yang bisa kita sebagai kaum nomor 1 adalah, membimbing mereka sepenuh hati untuk bisa meyakinkan dan mengubah pandangannya mengenai arti penting pendidikan. yap. Hanya sebatas mengarahkan. Karena keputusannya sudah berada di tangan-Nya.
(Hoho... dicukupkan ngebualnya..)
KE KE KE :-D
Sikologi dari sudut pandang virtual keanatomian adalah suatu 'alat' untuk melihat,menganalisa, menguasai, menggunakan, serta memanfaatkan sifat dasar seseorang.
Tampilkan postingan dengan label ngagul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ngagul. Tampilkan semua postingan
04 Desember 2008
03 Desember 2008
Cita-cita,eh?!
Pertanyaan pada saat ini:
— Gimana sih nentuin suatu cita-cita?
Hm… Pernah gak sih kita kepikiran soal masa depan kita?
Atau… Apa sih pekerjaan yang nantinya akan kita lakukan saat udah jadi bapak-bapak? Dan—mungkin ini yang susah dijawab—Kenapa sih kita harus bercita-cita???
Hoho… pertanyaan yang aneh memang. Dan jawabannya mungkin akan lebih aneh malah. Oh iya, sebelum pertanyaan itu dijawab satu per satu, ada baiknya kita dengarkan suara Trick si Call Ogi’s inih,,
Ehm,,
Ng….
Cita-cita menurut kamus gue tuh ya adalah suatu hal atawa perbuatan yang telah biasa dilakukan di massa lalu—bisa dibilang hobi—dan pada prosesnya (tentu saja dengan kerja keras) dan terus-menerus diasah agar dirinya dapat lebih handal dalam mengaplikasikannya. Intinya, hobi=cita-cita.
Yah, seperti itulah.
Menurut lo??
Hm…
Namun, bagaimana jika kasusnya seperti ini,,
(Dengan pemisalan tentu saja)
Gue adalah orang yang suka mengutak-atik barang elektronik. Bongkar-ngobeng-ngulir-pasang- Bongkar-ngobeng-ngulir-pasang- Bongkar-ngobeng-ngulir-pasang. Itulah sesuatu yang gue lakukan saat gak ada kerjaan.
Gue juga suka dengan yang namanya jalan-jalan. Kemana pun jalan. Backpacker lah.
Gue juga menyukai pemandangan. Gue suka kalau pemandangan itu diabadikan, tentu saja maksudnya adalah difoto. Istilah kerennya gue menyukai menjadi fotografer.
Well, lihat kan?
Itu semua katakanlah hobi gue. Ketiganya. Jika kita menyimpulkan bahwa hobi adalah cita-cita di massa depan, bagaimana dengan permasalahan yang ini. Apakah ketiganya itu adalah cita-cita si ‘gue’ ini? Bagaimana memilih satu diantaranya? Confuse me….
Menurut seseorang yang entah di mana dan sekarang pun lagi ngapain gue juga kagak tau, perbedaan antara keinginan dengan ambisi meraih cita-cita terletak pada kesungguhan dari orang tersebut. Keinginan itu bisa diartikan dengan obsesi seseorang untuk tahu dan bisa melakukan dengan usaha kerja keras yang dapat dia lakukan. Namun, saat dia sudah berusaha dengan seluruh kemampuannya itu tetapi tetap mengalami kegagalan, reaksi darinya hanya sekedar ‘yah, gak bisa guah… YAUDAH DEH, GAK APA-APA’. Itulah yang disebut sebagai ‘sebatas keinginan’.
Sedangkan cita-cita itu terlihat dari apakah dia seolah terkena serangan penyakit obsesif kompulsif. Fight yang dilakukannya tidak hanya bergantung kepada kemampuannya. Dia juga akan berusaha menemukan sebuah kebesaran Tuhannya, di samping dia juga kerja keras dalam usahanya (The megicly U know?). Lalu, jika pada waktunya habis dan cita-cita itu tidak dapat dicapai, maka dirimu akan menyesalinya. Benar benar menyesali! Seakan hidup ini sudah tak berarti lagi buatnya.
Well, jagalah mimpi-mimpimu itu. Jaga dan berjuanglah dengan tetesan darahmu.
Berdo’a-lah! Berdo’a-lah dan Dia akan memeluk mimpi-mimpimu.
Akhirnya, yang terakhir kita bisa lakukan adalah menanti kabar baik itu.
Sesungguhnya takdirmu itu s’lalu baik untukmu…
— Gimana sih nentuin suatu cita-cita?
Hm… Pernah gak sih kita kepikiran soal masa depan kita?
Atau… Apa sih pekerjaan yang nantinya akan kita lakukan saat udah jadi bapak-bapak? Dan—mungkin ini yang susah dijawab—Kenapa sih kita harus bercita-cita???
Hoho… pertanyaan yang aneh memang. Dan jawabannya mungkin akan lebih aneh malah. Oh iya, sebelum pertanyaan itu dijawab satu per satu, ada baiknya kita dengarkan suara Trick si Call Ogi’s inih,,
Ehm,,
Ng….
Cita-cita menurut kamus gue tuh ya adalah suatu hal atawa perbuatan yang telah biasa dilakukan di massa lalu—bisa dibilang hobi—dan pada prosesnya (tentu saja dengan kerja keras) dan terus-menerus diasah agar dirinya dapat lebih handal dalam mengaplikasikannya. Intinya, hobi=cita-cita.
Yah, seperti itulah.
Menurut lo??
Hm…
Namun, bagaimana jika kasusnya seperti ini,,
(Dengan pemisalan tentu saja)
Gue adalah orang yang suka mengutak-atik barang elektronik. Bongkar-ngobeng-ngulir-pasang- Bongkar-ngobeng-ngulir-pasang- Bongkar-ngobeng-ngulir-pasang. Itulah sesuatu yang gue lakukan saat gak ada kerjaan.
Gue juga suka dengan yang namanya jalan-jalan. Kemana pun jalan. Backpacker lah.
Gue juga menyukai pemandangan. Gue suka kalau pemandangan itu diabadikan, tentu saja maksudnya adalah difoto. Istilah kerennya gue menyukai menjadi fotografer.
Well, lihat kan?
Itu semua katakanlah hobi gue. Ketiganya. Jika kita menyimpulkan bahwa hobi adalah cita-cita di massa depan, bagaimana dengan permasalahan yang ini. Apakah ketiganya itu adalah cita-cita si ‘gue’ ini? Bagaimana memilih satu diantaranya? Confuse me….
Menurut seseorang yang entah di mana dan sekarang pun lagi ngapain gue juga kagak tau, perbedaan antara keinginan dengan ambisi meraih cita-cita terletak pada kesungguhan dari orang tersebut. Keinginan itu bisa diartikan dengan obsesi seseorang untuk tahu dan bisa melakukan dengan usaha kerja keras yang dapat dia lakukan. Namun, saat dia sudah berusaha dengan seluruh kemampuannya itu tetapi tetap mengalami kegagalan, reaksi darinya hanya sekedar ‘yah, gak bisa guah… YAUDAH DEH, GAK APA-APA’. Itulah yang disebut sebagai ‘sebatas keinginan’.
Sedangkan cita-cita itu terlihat dari apakah dia seolah terkena serangan penyakit obsesif kompulsif. Fight yang dilakukannya tidak hanya bergantung kepada kemampuannya. Dia juga akan berusaha menemukan sebuah kebesaran Tuhannya, di samping dia juga kerja keras dalam usahanya (The megicly U know?). Lalu, jika pada waktunya habis dan cita-cita itu tidak dapat dicapai, maka dirimu akan menyesalinya. Benar benar menyesali! Seakan hidup ini sudah tak berarti lagi buatnya.
Well, jagalah mimpi-mimpimu itu. Jaga dan berjuanglah dengan tetesan darahmu.
Berdo’a-lah! Berdo’a-lah dan Dia akan memeluk mimpi-mimpimu.
Akhirnya, yang terakhir kita bisa lakukan adalah menanti kabar baik itu.
Sesungguhnya takdirmu itu s’lalu baik untukmu…
21 Oktober 2008
Bertanya Boleh?
Ya, gue memang aneh. Sebenernya gue gak gitu ngerti dengan postingan yang sebelumnya ituh tadi. Tapi dipaksakan tulis supaya gaya penulisan gue bias berkembang. Secara, gue kalo kagak nulis ya ngapain lagi..? ada sih: baca buku di Gramed!!
Hm.. satu lagi tulisan aneh dari gue. Yang ini bukan kritik, bukan opini tentang apapun. Ini adalah sebuah pertanyaan dari hati kecil gue yangsudah lama sekali terkubur malu, gue—baru aja—ubek-ubek lagi dari palung hati terdalam, dan sekaranglah keberanian itu datang ke permukaan. Gue menampilkannya, agar menyadarkan gue ini bahwa hidup itu sangat sulit untuk dijalani, dan sangat tidak gampang! Dan dalam segala kesulitan, akan ada balasan yang sangat cukup untuk semua kerja keras, juga dari ikhlas kita untuk mau bersusah payah, berusaha menjadi sesuatu yang lebih baik.
SEBUAH TANYA: WAHAI WANITA…?
Wahai wanita yang malang,
Siapakah engkau?
Berani-beraninya dirimu mencintaiku
Engkau tahu semua hitamku, lemahku.
Namun tetaplah engkau keras kepala padaku…
Wahai wanita malang,
Tidakkah kau tega terhadap dirimu,
Mau-maunya engkau berkorban besar, memberiku semua,
Agar ku bahagia karean semua itu…
Wahai wanita (yang bias dibilang) malang,
Bias-bisanya engkau menaruh simpati kepadaku,
Mengikhlaskan sisa hidupmu selalu menemani dan berada di hatiku..
Wahai wanita yang (JELAS-JELAS!) malang,
Siapakah dirimu itu??
Ng.. apakah ku boleh mengira..?
Akankah engkau kusebutkan satu per satu supaya kau mau mengaku kepadaku?
Mungkinkah engkau Asmirandah itu??
Seorang bintang iklan&televisi yang sedang bersinar?
Oh.. yes! Tentu kita berbeda kasta. Aku sadar,,
Engkau artis, sedang aku—bisa dibilang—pengemis…
Mungkinkah engkau mereka, seseorang dari anak rohis??
Dan siapapun, mereka-mereka yang semacam itu...
Oh.. Engkaulah akhwat sejati, impian para ikhwan..
¯-¯ namun aku bukanlah ikhwan itu…
Mungkinkah engkau Vinny??
Oh.. she is charming and clever girl!!
Criteria cewe’ teladan ada padanya,
Ohoho.. namun kukira hanya orang gila yang percaya bahwa kita bisa menyatu…
Atau…
Mungkinkah engkau Bu Ratna??
Wow, engkaulah guru yang baik; penyabar, keibuan, perhatian kasih.
Dan engkau selalu bisa menjadi teman para muridmu.
Mungkin engkau bisa menjadi teman hidupku..?
Ehm.. tentu saja. Itu hanyalah sebuah: misalnya!
Wahai wanita yang—bisa dipastikan 100% jika dia jadi denganku, nasibnya akan—malang,
Meski engkau sekarang jauh, dan masih menganggapku bukan apa-apa
Aku s’lalu menganggapmu bidadariku..
Engkaulah pen-support, juga sebagai tujuan hidupku.
Oh wanita malang…
Siapa??
Siapa sih kamu?
Hm.. satu lagi tulisan aneh dari gue. Yang ini bukan kritik, bukan opini tentang apapun. Ini adalah sebuah pertanyaan dari hati kecil gue yangsudah lama sekali terkubur malu, gue—baru aja—ubek-ubek lagi dari palung hati terdalam, dan sekaranglah keberanian itu datang ke permukaan. Gue menampilkannya, agar menyadarkan gue ini bahwa hidup itu sangat sulit untuk dijalani, dan sangat tidak gampang! Dan dalam segala kesulitan, akan ada balasan yang sangat cukup untuk semua kerja keras, juga dari ikhlas kita untuk mau bersusah payah, berusaha menjadi sesuatu yang lebih baik.
SEBUAH TANYA: WAHAI WANITA…?
Wahai wanita yang malang,
Siapakah engkau?
Berani-beraninya dirimu mencintaiku
Engkau tahu semua hitamku, lemahku.
Namun tetaplah engkau keras kepala padaku…
Wahai wanita malang,
Tidakkah kau tega terhadap dirimu,
Mau-maunya engkau berkorban besar, memberiku semua,
Agar ku bahagia karean semua itu…
Wahai wanita (yang bias dibilang) malang,
Bias-bisanya engkau menaruh simpati kepadaku,
Mengikhlaskan sisa hidupmu selalu menemani dan berada di hatiku..
Wahai wanita yang (JELAS-JELAS!) malang,
Siapakah dirimu itu??
Ng.. apakah ku boleh mengira..?
Akankah engkau kusebutkan satu per satu supaya kau mau mengaku kepadaku?
Mungkinkah engkau Asmirandah itu??
Seorang bintang iklan&televisi yang sedang bersinar?
Oh.. yes! Tentu kita berbeda kasta. Aku sadar,,
Engkau artis, sedang aku—bisa dibilang—pengemis…
Mungkinkah engkau mereka, seseorang dari anak rohis??
Dan siapapun, mereka-mereka yang semacam itu...
Oh.. Engkaulah akhwat sejati, impian para ikhwan..
¯-¯ namun aku bukanlah ikhwan itu…
Mungkinkah engkau Vinny??
Oh.. she is charming and clever girl!!
Criteria cewe’ teladan ada padanya,
Ohoho.. namun kukira hanya orang gila yang percaya bahwa kita bisa menyatu…
Atau…
Mungkinkah engkau Bu Ratna??
Wow, engkaulah guru yang baik; penyabar, keibuan, perhatian kasih.
Dan engkau selalu bisa menjadi teman para muridmu.
Mungkin engkau bisa menjadi teman hidupku..?
Ehm.. tentu saja. Itu hanyalah sebuah: misalnya!
Wahai wanita yang—bisa dipastikan 100% jika dia jadi denganku, nasibnya akan—malang,
Meski engkau sekarang jauh, dan masih menganggapku bukan apa-apa
Aku s’lalu menganggapmu bidadariku..
Engkaulah pen-support, juga sebagai tujuan hidupku.
Oh wanita malang…
Siapa??
Siapa sih kamu?
Langganan:
Postingan (Atom)